Wapres JD Vance Menegaskan AS Tidak Ingin Terjebak dalam Perang Berkepanjangan di Timteng

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan terjebak dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah. Pernyataan ini muncul di tengah situasi di mana Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran, di saat proses negosiasi nuklir masih berlangsung.
Dalam wawancara dengan The Washington Post, Vance menegaskan penolakannya terhadap ide konflik yang berkepanjangan. Ia menyatakan, “Konsep bahwa kita akan terlibat dalam perang di Timur Tengah selama bertahun-tahun tanpa ada akhir yang jelas — tidak ada kemungkinan itu akan terjadi.”
Pernyataan ini terungkap saat Amerika Serikat dan Iran melanjutkan putaran ketiga perundingan tidak langsung di Jenewa. Diskusi ini merupakan kelanjutan dari upaya penting untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan program nuklir Teheran.
Pejabat Iran telah menyatakan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dengan serius dan produktif, meskipun masih terdapat sejumlah perbedaan pandangan yang perlu diselesaikan.
Vance menyoroti contoh aksi militer terbatas yang dilakukan tahun lalu di Iran serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada bulan Januari. Ia menjelaskan bahwa kedua operasi ini memiliki tujuan yang jelas dan batas waktu yang terdefinisi.
Wakil Presiden AS tersebut juga mengungkapkan pandangannya mengenai intervensi militer asing. “Saya masih skeptis terhadap opsi tersebut,” ujarnya. “Namun, kami semua lebih memilih solusi diplomatik.” Vance menambahkan bahwa semua ini sangat bergantung pada tindakan dan pernyataan dari pihak Iran.
Ketika ditanya tentang pelajaran yang dapat diambil dari konflik yang terjadi sebelumnya, Vance memperingatkan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Kita harus menghindari mengulang kesalahan masa lalu, tetapi juga tidak boleh terjebak pada pelajaran tersebut,” katanya. “Hanya karena satu presiden membuat kesalahan dalam konflik militer, bukan berarti kita tidak akan pernah terlibat dalam konflik militer lagi.”
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut pertemuan di Jenewa sebagai sesi yang “intensif” dan menunjukkan kemajuan. Ia menyatakan bahwa kemungkinan akan ada putaran pembicaraan selanjutnya dalam waktu dekat.
“Tentu saja, masih terdapat perbedaan pendapat yang wajar, namun jika dibandingkan dengan masa lalu, kedua belah pihak kini menunjukkan komitmen yang lebih besar untuk mencapai solusi yang dapat dinegosiasikan,” ujarnya dalam wawancara dengan media pemerintah Iran.




