Netanyahu Terancam Jatuh, Oposisi Israel Berkolaborasi dengan Partai Arab untuk Pemerintahan Baru

Anggota Knesset dari kalangan Arab, Ahmad Tibi, mengungkapkan bahwa partainya, Joint List, bersedia memberikan dukungan kepada partai-partai oposisi yang berupaya menjatuhkan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa dukungan tersebut akan diberikan dari luar, tanpa ada keinginan untuk bergabung dalam pemerintah baru.
Dalam sebuah wawancara dengan Channel 12, Tibi mendorong Gadi Eisenkot, salah satu figur oposisi yang berpotensi menggantikan Netanyahu, untuk mencontoh langkah yang diambil oleh mantan Perdana Menteri Yitzhak Rabin. Di masa lalu, Rabin berhasil memanfaatkan dukungan dari anggota parlemen Arab untuk meratifikasi Perjanjian Oslo yang ditandatangani dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Tibi, yang memimpin partai yang merupakan gabungan dari tiga faksi Arab dan meraih 11 kursi pada pemilu terbaru, menyatakan kepada Channel 12 bahwa pihaknya ingin berkontribusi dalam upaya menjatuhkan pemerintahan Netanyahu, yang selama ini dianggap buruk oleh banyak pihak.
“Kami ingin berperan dalam memperbaiki situasi dan memberikan harapan bagi masyarakat,” ujarnya, seperti dikutip dari laman Times of Israel.
Namun, ia menegaskan bahwa partainya tidak memiliki niatan untuk berpartisipasi dalam pemerintah yang baru.
“Saya tidak ingin mengambil jabatan menteri atau posisi dalam kabinet,” tambahnya.
Di sisi lain, Tibi berpendapat bahwa perubahan dalam pemerintahan tidak akan terwujud tanpa dukungan dari partai-partai Arab. Ia merujuk pada hasil pemilu yang menunjukkan bahwa blok anti-Netanyahu memiliki total 67 kursi dari 120 kursi di Knesset. Dari jumlah itu, 19 kursi diperoleh oleh dua partai Arab; Joint List dengan 11 kursi dan Ra’am dengan delapan kursi.
Jumlah kursi tersebut sebenarnya cukup untuk membentuk mayoritas di parlemen jika partai-partai oposisi yang dipimpin oleh kelompok Yahudi bersedia menjalin kerja sama dengan faksi-faksi Arab. Namun, tiga partai, yaitu Yashar, B’Yachad, dan Yisrael Beytenu, secara tegas menolak untuk bergabung dalam koalisi dengan partai-partai Arab.
Tibi menilai tingginya partisipasi pemilih Arab serta meningkatnya representasi mereka di Knesset menunjukkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak akan mampu membentuk pemerintahan yang baru. Dia menilai tingginya suara pemilih Arab sebagai tindakan heroik untuk melawan pemerintahan koalisi Netanyahu yang dianggap tidak memihak.
Selain itu, Tibi mengisyaratkan bahwa Joint List berencana untuk merekomendasikan kepada Presiden Isaac Herzog agar memberikan mandat pembentukan pemerintahan kepada salah satu calon dari partai-partai Zionis anti-Netanyahu, yang kemungkinan besar adalah Eisenkot.




