Israel Mengeluarkan Rp1,78 Miliar untuk Mempengaruhi Jawaban ChatGPT Tentang Gaza

Israel baru-baru ini dilaporkan menginvestasikan dana yang mencapai puluhan juta dolar AS untuk memperbaiki citranya di Amerika Serikat.
Salah satu strategi kunci yang diadopsi adalah berusaha memengaruhi platform kecerdasan buatan (AI) agar dapat menyajikan narasi yang lebih menguntungkan mengenai negara Yahudi tersebut.
Langkah ini diambil di tengah menurunnya pandangan publik Amerika terhadap Israel, terutama setelah reaksi militer terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 serta keterlibatan konflik dengan Iran.
Berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Pew Research Center pada Juni 2026, sekitar 60 persen orang dewasa di AS menunjukkan ketidaksukaan terhadap Israel—angka ini mengalami peningkatan signifikan dari 53 persen pada tahun sebelumnya serta hanya 42 persen pada 2022.
Tingkat ketidakpercayaan publik terhadap kebijakan yang dijalankan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mencapai 65 persen, menunjukkan tantangan besar yang dihadapi oleh pemerintah Israel.
Strategi Manipulasi Model AI
Laporan dari Politico mengungkap bahwa terdapat kampanye dengan anggaran sebesar US$100.000 (Rp1,78 miliar) yang bertujuan untuk memengaruhi cara Large Language Models (LLM), seperti ChatGPT dan Perplexity, dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan konflik Gaza dan Israel.
Metode Operasi
Kampanye ini memanfaatkan situs Hanover Institute for Public Policy, yang merilis laporan-laporan anonim mengenai isu-isu geopolitik dan antisemitisme. Materi yang dipublikasikan dirancang sedemikian rupa agar dapat dirujuk oleh platform AI serta oleh para ahli hukum saat mereka merespons pertanyaan dari masyarakat.
Aktor yang Terlibat
Proyek ini diinisiasi oleh Badan Periklanan Pemerintah Israel (LaPam) dan dijalankan melalui agensi komunikasi asal Prancis, Havas Media, serta salah satu subkontraktornya, Piro Inc.
Keterlibatan Teknis
Penanda teknis pada situs tersebut terhubung dengan Res, sebuah startup AI yang berbasis di Seattle. Startup ini membantu klien dalam mengoptimalkan rekomendasi yang diberikan oleh model-model AI. CEO Res, Hai Tran, telah mengonfirmasi adanya hubungan ini.
Dokumen yang diajukan ke Departemen Kehakiman AS mengenai pendaftaran agen asing (FARA) membuktikan bahwa sejumlah artikel di situs tersebut merupakan bagian dari kampanye untuk menyebarluaskan informasi dengan tujuan membentuk opini publik.
Bukan Kampanye AI Pertama
Sebelumnya, laporan investigasi dari Wall Street Journal (WSJ) mengungkap bahwa Havas Media pernah bekerja sama dengan mantan manajer kampanye Donald Trump, Brad Parscale, dalam proyek senilai US$46,5 juta (Rp830,5 miliar).
Kampanye tersebut berfokus pada pembuatan konten berbasis AI yang mendukung posisi pro-Israel serta pengoptimalan situs web untuk menghasilkan respons yang lebih menguntungkan di platform AI.
Dengan berbagai upaya ini, Israel menunjukkan komitmennya untuk memperbaiki citra di tengah tantangan yang dihadapi, terutama dalam konteks geopolitik yang kompleks.




