Ciri-ciri Penjilat yang Berbahaya Menurut Buya Yahya, Waspadai Pujian yang Menipu

Buya Yahya mengingatkan umat Islam untuk tetap waspada terhadap pujian yang mungkin datang dari orang lain. Ia menekankan bahwa tidak semua pujian itu tulus. Ada kalanya, pujian tersebut justru merupakan tanda bahwa seseorang sedang berbohong atau berusaha menjilat untuk kepentingan tertentu.
Dalam penjelasannya, Buya Yahya merujuk pada hikmah ke-73 dari ajaran Imam Haddad yang membahas tentang perilaku seseorang yang memberikan pujian secara berlebihan. Terutama ketika pujian yang diberikan tidak mencerminkan kenyataan atau kebenaran.
“Pujian yang diberikan kepada kamu, sebenarnya adalah sesuatu yang tidak kamu miliki. Jika seseorang memuji kamu dengan sesuatu yang tidak ada padamu, itu berarti dia sedang berbohong. Dalam hal ini, kita bisa menyebutnya sebagai menjilat,” ujar Buya Yahya dalam kanal YouTube-nya pada Kamis (8/10/26).
Buya Yahya menegaskan bahwa orang yang memberikan pujian atas sesuatu yang tidak dimiliki seseorang perlu diwaspadai. Sanjungan semacam ini bukanlah hasil dari penilaian yang tulus, melainkan sebuah kebohongan yang bertujuan untuk merayu dan mengambil hati.
Kondisi ini bisa menjadi berbahaya, terutama ketika hubungan antara dua orang menjadi tidak harmonis. Seseorang yang sebelumnya memberikan pujian yang tidak benar dapat dengan mudah berbalik mencela ketika merasa kecewa atau marah.
“Pujian yang tidak tulus itu pada dasarnya tidak ada. Ketika dia memberikan pujian itu, dia sedang berdusta. Dan ketika situasi berubah, orang tersebut bisa langsung mencela dengan hal-hal yang tidak ada pada dirimu,” jelasnya.
Oleh karena itu, Buya Yahya mengingatkan agar kita tidak mudah terbawa perasaan hanya karena menerima pujian. Terlebih jika pujian itu berisi sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan diri kita.
Selain membahas tentang bahaya dari sikap penjilat, Buya Yahya juga memberikan panduan tentang bagaimana sebaiknya menghadapi orang-orang dengan perilaku buruk. Ia menekankan bahwa tidak perlu membalas perlakuan buruk dengan cara yang sama.
Jika suatu hubungan terus menimbulkan luka, ia menyarankan untuk menjauh secara perlahan tanpa perlu mencaci maki atau menyimpan dendam.
“Jika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, jangan sekali-kali kamu membalasnya. Sebaliknya, ambillah jarak secara perlahan tanpa harus terlibat dalam pertikaian,” ujar Buya Yahya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kata-kata dan perilaku saat memutuskan untuk menjauh dari seseorang. Hal ini mencerminkan kedewasaan dan pemahaman akan situasi yang dihadapi.




