lifestyle

Social Commerce Memengaruhi Selera Fashion Perempuan: Dari Scroll TikTok ke Checkout Baju

Jakarta – Pertumbuhan social commerce telah merevolusi cara perempuan Indonesia dalam mencari dan membeli pakaian. Dulu, banyak konsumen yang lebih mengandalkan toko fisik atau platform marketplace. Kini, media sosial telah menjadi sumber utama untuk mendapatkan inspirasi fashion sekaligus mempertimbangkan produk yang akan dibeli.

Perubahan ini telah membuat konsumen menjadi lebih selektif dalam memilih. Selain desain yang sesuai dengan tren, faktor kenyamanan, karakter motif, harga, dan kesesuaian antara informasi produk dengan barang yang diterima juga menjadi pertimbangan penting sebelum melakukan pembelian.

Tren ini sangat terlihat dalam dunia fashion perempuan, terutama untuk pakaian sehari-hari. Model yang nyaman, dengan potongan longgar namun tetap terlihat stylish, menjadi pilihan yang banyak dicari oleh konsumen.

Kondisi ini juga berdampak pada perhatian terhadap material pakaian. Misalnya, rayon kini menjadi salah satu bahan populer dalam koleksi pakaian sehari-hari karena sifatnya yang ringan dan nyaman saat dikenakan.

Transformasi pola konsumsi ini mendorong pelaku usaha fashion lokal untuk lebih peka terhadap kebutuhan konsumen. Keishop 392, sebuah merek yang berasal dari Jakarta dan berdiri sejak 2020, adalah salah satu contoh usaha yang berkembang pesat di tengah perubahan ini.

Awalnya, brand ini menjalankan bisnis grosir pakaian, tetapi kemudian beralih untuk mengembangkan bisnis ritel secara mandiri. Perubahan tersebut terjadi seiring dengan pergeseran perilaku konsumen dan tren perdagangan digital yang semakin meluas.

Debby, pendiri Keishop 392, menjelaskan bahwa pengembangan produk tidak hanya berfokus pada mengikuti tren yang ada. Ia lebih memilih untuk memberikan perhatian pada karakter motif dan kebutuhan konsumen agar produk yang dihasilkan memiliki keunikan tersendiri.

“Kami tidak hanya mengikuti tren yang sudah ada di pasar, tetapi lebih kepada pengembangan motif yang memiliki ciri khas agar konsumen mendapatkan pakaian yang unik, berkualitas, dan tetap terjangkau untuk segmen pasar menengah,” ujar Debby dalam keterangannya yang dirilis pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Bagi pelaku usaha fashion yang menargetkan kebutuhan sehari-hari, memahami karakter konsumen adalah hal yang krusial untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis. Pakaian yang desainnya terlalu mengikuti tren berisiko memiliki siklus penggunaan yang singkat, sementara konsumen sehari-hari lebih cenderung mencari produk yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Related Articles

Back to top button
kpkgg