Waspadai Aktivitas Gunung Semeru dan Merapi Selain Gunung Anak Krakatau

Pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap aktivitas Gunung Semeru dan Gunung Merapi, mengingat sejumlah gunung api di Indonesia menunjukkan aktivitas dalam waktu yang bersamaan.
“Gunung Semeru dan Merapi adalah dua gunung yang perlu mendapatkan perhatian lebih saat ini. Keduanya terletak dekat dengan area yang padat penduduk,” ungkap Alutsyah Luthfian, seorang pakar dari Departemen Teknik Geofisika ITS, saat memberikan penjelasan di Surabaya, Jawa Timur, Senin.
Fian, sapaan akrabnya, menekankan bahwa meskipun beberapa gunung api menunjukkan aktivitas bersamaan, hal ini tidak berarti bahwa satu gunung mempengaruhi yang lainnya. Setiap gunung memiliki sistem dan karakteristik unik yang berbeda.
“Setiap gunung api memiliki siklus dan karakteristik tersendiri. Jadi, jika beberapa gunung api aktif pada waktu yang hampir bersamaan, belum tentu aktivitas tersebut saling terkait,” jelasnya.
Menurutnya, kedekatan waktu erupsi tidak bisa dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa aktivitas dari satu gunung api dapat memicu aktivitas gunung lain.
Untuk memahami hubungan antara aktivitas gunung api, Fian menyatakan perlunya kajian yang mendalam terhadap data geofisika dan kondisi sistem di dalam tanah dari masing-masing gunung.
“Kita tidak dapat hanya berdasarkan waktu yang berdekatan dan serta merta menganggap bahwa satu gunung memicu yang lain. Penting untuk memperhatikan data dan keadaan masing-masing gunung,” tegasnya.
Fian menambahkan bahwa perhatian lebih harus diberikan kepada Gunung Semeru, karena perilaku erupsinya dianggap tidak selalu dapat diprediksi dengan akurat. Gunung ini juga terletak di dekat kawasan yang memiliki populasi penduduk yang cukup tinggi.
“Semeru merupakan gunung yang lebih perlu diwaspadai, mengingat perilaku letusannya yang sulit untuk diprediksi. Terkadang, Semeru dapat meletus dengan skala besar tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya,” kata Fian.
Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga harus terus dipantau. Fian menjelaskan bahwa karakteristik Anak Krakatau berbeda dengan Semeru dan Merapi, dikarenakan letaknya yang berada di area laut.
Kondisi ini menimbulkan potensi longsor tubuh gunung ke laut yang perlu diperhatikan dalam upaya mitigasi, mengingat peristiwa serupa pernah menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada tahun 2018.
Namun, ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengaitkan aktivitas Anak Krakatau dengan aktivitas Gunung Semeru atau gunung api lainnya.
“Setiap gunung mempunyai sistem magmatik yang berbeda. Oleh karena itu, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa aktivitas Anak Krakatau yang meningkat akan menyebabkan Semeru atau gunung lainnya ikut aktif,” pungkasnya.




