Baliho Film Aku Harus Mati Dikenai Kritikan dari Kemenkes, Apa Penyebabnya?

Film “Aku Harus Mati” saat ini sedang menjadi perhatian publik, tidak hanya karena tema yang diangkatnya yang sensitif, tetapi juga karena materi promosi yang dipasang di ruang publik. Baliho film ini telah menuai kritik yang signifikan, dianggap terlalu provokatif dan dinilai berpotensi memberikan dampak psikologis negatif, terutama bagi kelompok yang rentan.
Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan dari Kementerian Kesehatan, mengungkapkan bahwa kontroversi ini perlu ditangani dengan serius. Mari kita simak lebih lanjut informasi terkait isu ini.
Menurut Imran, film berjudul “Aku Harus Mati” memicu perdebatan karena materi promosi publiknya, seperti baliho, dianggap provokatif dan berisiko meningkatkan kemungkinan peniruan bunuh diri di kalangan individu yang rentan. Para ahli kesehatan mental juga menyerukan perlunya penertiban materi promosi dan penerapan pedoman yang aman dalam penyajian konten terkait.
Dia menekankan bahwa cara penyampaian pesan oleh media dan materi promosi dapat mempengaruhi cara masyarakat memahami isu kesehatan mental. Imran mengingatkan bahwa penyajian yang ceroboh bisa berakibat fatal.
“Dampak dari penyajian yang tidak hati-hati dapat mengancam keselamatan publik,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai satu-satunya solusi bagi penderitaan dapat melemahkan ketahanan individu yang sedang berada dalam situasi sulit.
“Paparan yang berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi bunuh diri bisa menjadi pemicu bagi individu yang memiliki riwayat depresi, impulsif, atau pengalaman traumatis,” jelasnya.
Oleh karena itu, konteks penyajian sangatlah penting. Imran menegaskan bahwa pesan yang disampaikan seharusnya tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga bersifat edukatif dan mendukung upaya pencegahan.
“Apakah pesan tersebut menempatkan bunuh diri dalam kerangka kompleksitas kesehatan jiwa dan pencegahan, ataukah hanya menonjolkan elemen dramatis yang memuliakan tindakan tersebut?” ungkapnya.
Kekhawatiran ini semakin diperkuat oleh respons dari para profesional kesehatan jiwa yang mendorong perlunya penertiban materi promosi.
“Pilihan kata yang tampaknya sepele—seperti menggambarkan bunuh diri sebagai ‘pilihan’ atau ‘pembebasan’—bisa diinterpretasikan sebagai legitimasi bagi individu yang sedang merasa putus asa,” tambahnya.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih bertanggung jawab dinilai mampu mengurangi risiko.
“Penyajian yang menekankan pentingnya bantuan, menguraikan faktor penyebab yang kompleks, dan mengarahkan orang untuk mencari layanan dukungan dapat membantu mengurangi kemungkinan peniruan dan mengubah narasi dari sensasi menjadi pencegahan,” tuturnya.




