bisnis

IHSG Ditutup Anjlok 43 Poin Akibat Isu Kenaikan BBM Nonsubsidi

IHSG mengalami penurunan yang signifikan pada perdagangan terakhir bulan Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot sebesar 0,61 persen atau 43,45 poin, menutup hari perdagangan di level 7.048,22.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat mencapai level tertinggi di 7.149. Namun, seiring berjalannya waktu, indeks mengalami pergerakan yang fluktuatif, didominasi oleh zona merah, bahkan sempat terjun hingga ke angka 7.034 menjelang penutupan pasar.

Total nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp 14,97 triliun dengan volume transaksi harian mencapai 272,6 juta. Aktivitas perdagangan juga menunjukan angka yang cukup tinggi dengan sekitar 1,5 juta transaksi berlangsung.

Menurut analisis dari Tim Analis Phintraco Sekuritas, IHSG yang menguat di sesi pembukaan ini kembali mengalami penyesuaian. Hal ini diperkirakan terjadi karena investor lebih memilih untuk merealisasikan keuntungan jangka pendek, di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Sektor transportasi mengalami penurunan paling drastis, mencapai 4,60 persen, diikuti oleh sektor energi yang merosot 2,75 persen. Selain itu, sektor teknologi tercatat mengalami penurunan 1,31 persen. Sektor industri juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan 1,20 persen, sementara sektor keuangan, infrastruktur, dan konsumer siklikal masing-masing melemah 0,53 persen, 0,46 persen, dan 0,45 persen.

Di sisi lain, sektor konsumer non-siklikal justru menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 1,48 persen, diikuti oleh sektor kesehatan yang naik 0,62 persen. Sektor properti juga mengalami penguatan sebesar 0,49 persen, menunjukkan adanya beberapa peluang investasi yang menarik di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan tetap bergerak dalam kisaran sideways antara level 6.900 hingga 7.150. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada fluktuasi, pasar saham masih memiliki stabilitas yang cukup untuk tetap beradaptasi.

Tim Analis Phintraco Sekuritas juga menyoroti pernyataan dari Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, yang menjelaskan bahwa Pertamina tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi maupun nonsubsidi. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap beredarnya informasi mengenai kemungkinan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang direncanakan pada 1 April 2026, yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan indeks.

Para investor saat ini juga menantikan rilis beberapa data ekonomi domestik yang dijadwalkan pada 1 April 2026. Data tersebut mencakup Indeks PMI Manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi sepanjang bulan Maret 2026, yang akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekonomi nasional.

Phintraco Sekuritas mencatat bahwa meskipun IHSG mengalami koreksi, ada tiga emiten yang berhasil mencatatkan kenaikan harga yang signifikan. Di antara saham-saham unggulan (LQ45), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan lonjakan harga sebesar 7,35 persen atau setara dengan 50 poin, menjadi 730. Sementara itu, Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami penguatan 6,72 persen atau 400 poin, menembus level 6.350. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga mencatatkan kenaikan sebesar 5,34 persen atau 75 poin, ditutup pada level 1.480.

Dengan perkembangan ini, penting bagi investor untuk tetap waspada dan melakukan analisis yang mendalam terhadap setiap pergerakan pasar. Terutama dengan adanya isu kenaikan BBM nonsubsidi yang dapat mempengaruhi berbagai sektor, termasuk transportasi dan energi, yang berimplikasi langsung terhadap keputusan investasi mereka.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k