OpenAI Menggunakan 10 Ribu Agen untuk Mempersiapkan IPO yang Sukses

Dunia teknologi baru-baru ini dikejutkan oleh pengumuman dari OpenAI. Mereka mengklaim bahwa sistem kecerdasan buatan (AI) mereka telah berhasil menyelesaikan salah satu tantangan matematika yang paling kompleks, yaitu persamaan Navier-Stokes, yang telah lama menjadi topik penelitian dalam daftar Hadiah Milenium.
Permasalahan ini berkaitan dengan dinamika fluida, dan ada hadiah sebesar USD 1 juta (setara dengan Rp 17,5 miliar) bagi siapa pun yang dapat menemukan solusinya.
OpenAI menggunakan 10.000 agen AI yang bekerja secara simultan selama 88 jam tanpa henti. Setelah bertukar jutaan pesan dan memproses sekitar 130 miliar token, mereka mengklaim telah menghasilkan pembuktian yang telah tervalidasi secara komputer.
Pencapaian ini diungkapkan oleh OpenAI sebagai indikasi kemajuan pesat dalam teknologi mereka, meskipun mereka menyatakan tidak memiliki niat untuk mengklaim hadiah uang yang ditawarkan.
Namun, alih-alih menerima pujian, klaim ini justru memicu kritik tajam dari kalangan matematikawan dan pengamat teknologi. Banyak yang mempertanyakan validitas hasil tersebut dan menilai bahwa OpenAI mungkin berusaha membesar-besarkan pencapaian mereka untuk meningkatkan valuasi perusahaan menjelang rencana penawaran umum saham perdana (IPO).
Tristan Buckmaster, seorang matematikawan dari Universitas New York, menuduh OpenAI membakar sumber daya yang besar setelah mendengar kabar bahwa dia dan peneliti dari Anthropic sedang mengembangkan pendekatan serupa.
Di sisi lain, pakar matematika Diego Cordoba memperingatkan publik agar tidak terburu-buru menerima klaim ini sebagai kebenaran sebelum ada verifikasi independen dari pihak lain.
Kritik juga datang dari komentator teknologi terkenal, Mehdi, yang berpendapat bahwa OpenAI tidak menunjukkan kecerdasan atau penalaran mesin yang sejati. Menurutnya, mereka lebih mengandalkan kekuatan komputasi besar (brute-force) daripada inovasi yang substansial.
“AI tersebut tampaknya hanya mengulang riset yang sudah dilakukan oleh manusia sebelumnya untuk menciptakan kesan seolah-olah terjadi ‘keajaiban ilmiah’ yang dibuat-buat,” ungkapnya. Menanggapi kritik ini, OpenAI mengakui bahwa proyek ini muncul setelah mereka mendengar tentang kemajuan penelitian pihak lain.
Meski demikian, mereka membantah telah mengakses karya yang belum dipublikasikan, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa data anonim dari matematikawan yang menggunakan layanan mereka turut berkontribusi dalam melatih model AI tersebut.
Saat ini, dunia menanti hasil verifikasi independen untuk menentukan apakah ini benar-benar merupakan terobosan yang signifikan atau sekadar strategi pemasaran yang cerdik.




