Kerusuhan Demonstrasi di Prancis Meluas, 2.513 Orang Ditangkap dan Banyak yang Dipenjara

Sebanyak 2.513 individu telah ditangkap oleh aparat kepolisian Prancis setelah kerusuhan meluas dalam demonstrasi besar-besaran yang berlangsung pada akhir pekan lalu. Aksi ini dipicu oleh meningkatnya biaya hidup dan penurunan kualitas pendidikan, yang berujung pada bentrokan dengan polisi, perusakan fasilitas publik, serta penjarahan di berbagai kota.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengumumkan jumlah penangkapan tersebut pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia juga menyatakan bahwa ratusan orang yang ditahan akan segera menghadapi proses hukum dalam beberapa hari ke depan.
“Jumlah yang ditahan saat ini mencapai 2.513 orang,” ungkap Nunez saat wawancara dengan stasiun televisi lokal TF1.
Lebih lanjut, Nunez menyoroti bahwa lebih dari 500 dari mereka yang ditangkap akan menjalani sidang dalam waktu dekat. Selain itu, 67 orang telah dijatuhi hukuman penjara.
Namun, ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai apakah angka tersebut mencakup mereka yang ditahan sebelum persidangan atau yang telah mendapatkan hukuman penjara setelah keputusan pengadilan.
Angka penahanan yang mencapai ribuan menunjukkan seberapa besar dampak dari kerusuhan yang meletus di tengah demonstrasi ini. Aksi protes tidak hanya memicu konfrontasi dengan aparat, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada berbagai bangunan pemerintahan serta tempat usaha.
Demonstrasi besar berlangsung pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026. Aksi yang berakar dari masalah kenaikan biaya hidup dan penurunan standar pendidikan ini dengan cepat berkembang menjadi bentrokan antara demonstran dan pihak kepolisian.
Di Kota Limoges, para perusuh terlihat membakar gedung balai kota yang bersejarah. Sementara itu, beberapa gedung pemerintah di Marseille dan kota-kota lain juga menjadi sasaran serangan.
Kerusakan yang terjadi pada fasilitas publik adalah salah satu dampak paling mencolok dari kerusuhan ini. Bangunan pemerintah yang diserang merupakan bagian dari infrastruktur publik yang sangat penting untuk pelayanan dan administrasi negara.
Situasi ini juga berdampak pada aktivitas bisnis di berbagai wilayah. Beberapa toko mengalami penjarahan, sementara kaca etalase dipecahkan oleh para pelaku.
Barang-barang dagangan banyak yang dibawa kabur dari toko, termasuk produk-produk dari butik merek mewah. Aksi penjarahan ini terutama dilaporkan terjadi di Paris dan Marseille.
Serangkaian peristiwa ini menunjukkan bagaimana demonstrasi yang awalnya dipicu oleh masalah sosial dan ekonomi telah berkembang menjadi kerusuhan yang berdampak serius pada keamanan, fasilitas publik, dan aktivitas perdagangan.




