Gen Z Menghadapi Tantangan Beli Rumah dan Pencarian Kerja di Usia Muda

Generasi Z, yang sering kali dipandang sebagai kelompok yang energik dan optimis terhadap masa depan, kini menghadapi tantangan besar, terutama dalam aspek keuangan. Sebuah penelitian terkini menunjukkan bahwa sekitar 38 persen dari generasi ini merasa tengah mengalami apa yang mereka sebut sebagai “krisis paruh baya”, meskipun usia mereka masih terbilang muda.
Salah satu faktor utama yang memicu kegelisahan ini adalah tekanan finansial yang semakin meningkat. Harga rumah yang kian melambung, biaya hidup yang terus meroket, dan pasar kerja yang semakin kompetitif membuat banyak anak muda merasa bingung dan kehilangan arah. Situasi ini menjadi semakin mendesak untuk diperhatikan.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh firma profesional global Ernst & Young (EY), kurang dari sepertiga anggota Gen Z merasa aman secara finansial. Bahkan, lebih dari setengah dari responden mengaku sering kali merasa cemas karena merasa tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Brittney Lindstrom, seorang life coach, menjelaskan bahwa tekanan finansial yang berkepanjangan dapat berdampak pada seluruh aspek kehidupan seseorang. “Ketika seseorang merasa kelelahan, semua hal tampak lebih sulit, terutama dalam hal mengelola emosi,” ungkap Lindstrom, seperti yang dikutip dari sumber terpercaya.
“Burnout dapat membuat seseorang menjadi lebih rentan dan sensitif,” lanjutnya, menyoroti pentingnya kesehatan mental di tengah situasi yang menekan ini.
Bagi Gen Z, masalah ini bukan hanya sekadar tantangan individu, tetapi juga cerminan dari kondisi ekonomi yang lebih berat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka memasuki fase dewasa pada masa pandemi, menghadapi pasar perumahan yang mahal, serta persaingan di dunia kerja yang jauh lebih sengit dibandingkan yang dialami oleh orang tua mereka.
Platform investasi Arta Finance melakukan survei pada 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa 38 persen Gen Z merasa tengah mengalami krisis hidup yang mirip dengan krisis paruh baya.
Meskipun banyak faktor emosional yang berkontribusi, masalah keuangan menjadi penyebab utama dari stres yang mereka alami. Sekitar 30 persen Gen Z mengaku mengalami stres berat akibat masalah finansial yang mereka hadapi.
Selain tantangan finansial, Gen Z juga merasakan tekanan dari aspek kesehatan mental yang mencapai 25 persen, serta masalah karier sebesar 23 persen. Kedua faktor ini dianggap sangat berkaitan erat dengan kestabilan finansial yang mereka impikan.
Banyak anggota Gen Z merasa bahwa konsep American Dream, atau cita-cita untuk mencapai kesuksesan melalui kerja keras, kini semakin sulit untuk direalisasikan. Mentalitas “kerja keras pasti berhasil” yang diyakini oleh generasi baby boomer dan sebagian Gen X kini dianggap tidak lagi relevan dalam konteks saat ini.




