bisnis

AI Memicu 30.000 Pemutusan Hubungan Kerja di 2026, Perusahaan Global Beralih ke Robot

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan pada tahun 2026. Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Snap Inc., pemilik Snapchat, yang baru saja mengumumkan rencana untuk merampingkan tenaga kerjanya dengan memecat sekitar 1.000 karyawan, yang setara dengan 16 persen dari total staf globalnya.

Keputusan ini mencerminkan dampak besar yang ditimbulkan oleh kemajuan kecerdasan buatan (AI) terhadap struktur kerja perusahaan modern. Snap mengungkapkan bahwa langkah pemangkasan ini didorong oleh percepatan adopsi teknologi AI, yang memungkinkan berbagai tugas yang dulunya memerlukan banyak tenaga manusia kini dapat diselesaikan oleh tim yang lebih kecil.

Dalam pernyataan resmi, perusahaan juga menegaskan bahwa perkembangan cepat dalam bidang kecerdasan buatan telah memudahkan penyelesaian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak orang, sehingga mengarah pada pengurangan jumlah karyawan.

CEO Evan Spiegel menyampaikan dalam memo internal bahwa langkah ini diharapkan dapat menghemat biaya hingga US$500 juta, atau sekitar Rp8,5 triliun, pada paruh kedua tahun 2026. Ia menekankan bahwa Snap telah menerapkan teknologi AI di berbagai lini bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Snap bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengadopsi strategi efisiensi berbasis AI. Sepanjang tahun 2026, sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya juga melakukan pemangkasan tenaga kerja dengan alasan transformasi digital yang mendesak.

Misalnya, Oracle merencanakan pemangkasan antara 20.000 hingga 30.000 karyawan sejalan dengan investasi besar-besaran dalam infrastruktur AI. Meta juga dilaporkan melakukan PHK terhadap ratusan pekerja, sementara Crypto.com memangkas 12 persen dari total tenaga kerjanya sebagai hasil dari integrasi AI di seluruh perusahaan.

“Pekerjaan yang terpengaruh adalah posisi yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan di dunia baru kami,” kata CEO Crypto.com, Kris Marszalek, dalam wawancaranya dengan Forbes pada tanggal 17 April 2026.

Di sisi lain, Atlassian juga mengurangi sekitar 1.600 karyawan untuk mendanai investasi dalam teknologi AI. Co-founder Mike Cannon-Brookes menyatakan keyakinannya bahwa kombinasi antara manusia dan AI dapat menciptakan hasil yang optimal.

Tren yang sedang berlangsung ini menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam cara perusahaan mengelola sumber daya manusia. Banyak organisasi kini lebih memilih untuk mengalihkan anggaran dari proses perekrutan menuju investasi dalam teknologi AI yang dianggap lebih berkelanjutan dan efisien.

Pakar ketenagakerjaan Andy Challenger mengungkapkan pandangannya bahwa perusahaan-perusahaan beralih ke investasi dalam AI dengan mengorbankan tenaga kerja. “Penggantian pekerja yang nyata dapat dilihat di sektor teknologi, di mana AI mampu menggantikan fungsi pengkodean. Sektor-sektor lain juga sedang mengeksplorasi batasan teknologi ini, dan meskipun belum sepenuhnya mampu menggantikan tenaga kerja, dampaknya sudah mulai mengurangi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.”

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k