IHSG Turun 39 Poin, Sentimen Pasar Tertekan Setelah Selat Hormuz Dibuka Kembali

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan hari Senin, 20 April 2026. IHSG tergerus sebanyak 0,52 persen atau 39,89 poin, mencapai level 7.594,11.
Tren penurunan ini terlihat jelas pada sesi kedua perdagangan, di mana indeks menyusut dari level awal 7.625 hingga menyentuh angka terendah di 7.574. Posisi tertinggi yang dicapai sepanjang intraday terjadi pada sesi pertama dengan angka 7.688.
Total nilai transaksi di pasar saham hari ini tercatat mencapai Rp 17,21 triliun, sementara volume transaksi harian berada di angka 408,37 juta. Investor melakukan total 2,46 juta transaksi selama periode tersebut.
Semua sektor saham mengalami penurunan, dengan sektor properti mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 2,04 persen. Diikuti oleh sektor energi yang merosot 1,34 persen, serta sektor teknologi yang mengalami penurunan 1,29 persen.
Sektor-sektor lain juga tidak luput dari tekanan, dengan sektor konsumer siklikal turun 1,06 persen, diikuti sektor keuangan yang menyusut 1,15 persen. Sektor konsumer non-siklikal juga tergerus 1,06 persen, sementara sektor transportasi mengalami penurunan 0,84 persen. Sektor kesehatan anjlok 0,80 persen, dan sektor bahan baku mengalami penurunan 0,61 persen, sedangkan sektor infrastruktur turun 0,22 persen.
Analis dari Phintraco Sekuritas mencatat bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat telah menciptakan ketidakpastian di pasar, sehingga harapan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat menjadi memudar. Kondisi ini mendorong harga minyak mentah global mengalami lonjakan, dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$89 per barel, dan minyak Brent mencapai US$95 per barel.
Dari perspektif teknikal, analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran level 7.500 hingga 7.700. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase penyesuaian setelah mengalami volatilitas.
Di sisi domestik, peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, kecuali untuk Pertalite dan Pertamax, berpotensi menambah beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), meskipun dampaknya tampak terbatas. Namun, situasi ini diimbangi dengan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang menunjukkan stabilitas.
Phintraco Sekuritas juga melaporkan bahwa beberapa emiten berhasil mencatatkan hasil positif meskipun IHSG dalam kondisi lesu. Berikut adalah saham-saham yang termasuk dalam kategori top gainers di jajaran saham unggulan (LQ45).
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pemimpin lonjakan harga saham, mencatatkan kenaikan sebesar 1,92 persen atau 1 poin, sehingga sahamnya ditutup pada level 53.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan kinerja yang baik, dengan kenaikan saham sebesar 0,78 persen atau 50 poin, mencapai level 6.475.
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) tidak ketinggalan, dengan catatan penguatan sebesar 0,76 persen atau 75 poin, dan ditutup pada posisi 10.000.
Meskipun IHSG turun, performa dari beberapa emiten menunjukkan bahwa pasar masih memiliki potensi untuk bangkit kembali. Para investor tetap disarankan untuk memantau perkembangan pasar dan faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi dinamika IHSG ke depan.




