Dolar AS Menguat Sementara Mata Uang Global Tertekan Pascakegagalan Trump dalam Diplomasi Iran

Jakarta – Dolar Amerika Serikat (AS), sebagai salah satu aset safe haven, mengalami penguatan signifikan di awal perdagangan Asia pada hari Senin, 13 April 2026. Kegagalan dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai antara AS dan Iran memberikan dorongan positif bagi mata uang negara Paman Sam ini.
Indeks dolar AS, yang mengukur daya saing greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat stabil di angka 99,056. Nilai ini mendekati posisi tertinggi yang dicapai sejak 7 April 2026, menunjukkan kekuatan yang cukup stabil dalam menghadapi tekanan pasar.
Sementara itu, sejumlah mata uang utama dunia mengalami penurunan. Euro tercatat merosot sebesar 0,3 persen menjadi US$1,1684, sedangkan poundsterling Inggris juga melemah sekitar 0,5 persen menjadi US$1,3398.
Mata uang yang lebih berisiko, seperti dolar Australia, juga mengalami koreksi, dengan penurunan sebesar 0,6 persen menjadi US$0,7030. Dolar Selandia Baru pun tidak luput dari tren ini, merosot sebesar 0,4 persen ke level US$0,5816.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah militer AS mempersiapkan diri untuk melakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Pernyataan dari Donald Trump menyebutkan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz setelah upaya pembicaraan panjang dengan Iran gagal untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Komando Pusat AS juga menegaskan bahwa blokade terhadap semua lalu lintas laut menuju dan keluar dari pelabuhan Iran akan diberlakukan pada pagi hari Senin waktu setempat. Keputusan ini membuat para pelaku pasar beralih ke aset safe haven, termasuk dolar AS, yang dianggap lebih aman dalam situasi yang tidak pasti ini.
“Perdagangan valas pada pagi ini menunjukkan aktivitas yang rendah, mencerminkan suasana risk-off, dengan penguatan dolar AS yang meluas sebagai respons terhadap situasi ini,” tulis analis dari Westpac dalam laporannya yang dikutip.
Rupiah juga mengalami penurunan di pasar spot pada perdagangan Senin pagi, 13 April 2026. Hingga pukul 09.00 WIB, nilai tukar rupiah tercatat di Rp 17.123 per dolar AS, melemah 19 poin dari posisi sebelumnya di Rp 17.104.
Sementara itu, yen Jepang berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 0,4 persen terhadap dolar AS, mencapai level 159,83 yen. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang mencapai 2,49 persen, level tertinggi dalam hampir tiga dekade terakhir.
Secara keseluruhan, kegagalan dalam negosiasi antara AS dan Iran semakin menguatkan posisi dolar AS di pasar global. Ketidakpastian yang muncul akibat situasi geopolitik ini mendorong investor untuk mencari perlindungan, menjadikan dolar kembali berfungsi sebagai aset utama di tengah gejolak pasar yang terus berlangsung.




