Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap infrastruktur energi dan pembangkit listrik di Iran. Keputusan ini diambil di tengah situasi yang semakin tegang di kawasan Timur Tengah.
Alasan di balik penundaan ini, menurut Trump, adalah adanya pembicaraan yang dianggapnya “sangat baik dan produktif” dengan pihak Teheran dalam dua hari terakhir. Ia menyatakan harapannya agar dialog ini dapat membawa perubahan positif dalam hubungan antara kedua negara.
“Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menjalani percakapan yang sangat konstruktif dan produktif selama dua hari terakhir terkait penyelesaian konflik total di Timur Tengah,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social. Pernyataan ini menunjukkan keyakinannya terhadap potensi dialog untuk meredakan ketegangan yang ada.
Lebih lanjut, Trump menyampaikan bahwa berdasarkan “nada dan isi dari percakapan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu”, ia memutuskan untuk memberikan waktu bagi semua upaya positif yang mungkin muncul antara Washington dan Teheran. Hal ini menunjukkan keinginannya untuk memberikan kesempatan bagi diplomasi.
Dalam pernyataannya, Trump juga mengungkapkan bahwa ia telah memberi instruksi kepada Departemen Pertahanan untuk menunda semua aksi militer yang ditujukan ke infrastruktur energi Iran selama periode tersebut. Langkah ini diharapkan dapat membuka ruang untuk dialog lebih lanjut.
Penundaan serangan ini akan bergantung pada hasil dari pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung, tambahnya. Ini menunjukkan bahwa Trump masih mempertimbangkan opsi militer, namun lebih memilih untuk memberikan kesempatan bagi diplomasi.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, yang menjadi salah satu target utama.
Sebagai respons, Iran telah melakukan serangan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta negara-negara seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang memiliki pengaruh militer AS. Tindakan ini menyebabkan banyaknya korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global serta penerbangan di kawasan tersebut.

