Site icon Judal Jadul

Teknologi Smart Solar Biomass Dryer Membantu Petani Pala Papua Barat Bebas Ketergantungan pada Matahari

Petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Papua Barat, kini mulai menggunakan inovasi terbaru bernama Smart Solar Biomass Dryer. Teknologi ini diperkenalkan oleh Tim Ekspedisi Patriot 15 dari Universitas Hasanuddin dan diharapkan dapat memberikan solusi signifikan bagi para petani setempat.

Inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapi petani, terutama terkait cuaca yang tidak menentu saat mengeringkan hasil pertanian mereka. Dengan adanya alat ini, proses pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca yang sering kali mengganggu, serta tidak memerlukan bahan bakar minyak.

Aher Samai, Ketua Kelompok Tani Rangkum, menegaskan pentingnya adanya alat semacam ini. “Dengan alat ini, kami tidak perlu khawatir jika hujan datang. Selain itu, alat ini dapat menggunakan sampah organik di sekitar sebagai sumber energi, dan tidak memerlukan listrik, sehingga bisa digunakan di mana saja,” ujarnya dalam wawancara pada 24 September 2026.

Namun, Aher juga menyampaikan harapannya agar mesin pengering yang ada dapat dirancang dengan kapasitas yang lebih besar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengeringan sehingga bisa mengolah lebih banyak hasil panen dalam waktu yang lebih singkat.

Penggunaan Smart Solar Biomass Dryer ini sangat menguntungkan, terutama dalam hal waktu pengolahan biji pala. Proses pengeringan yang sebelumnya memakan waktu sekitar tujuh hari kini dapat diselesaikan hanya dalam dua hari berkat teknologi ini.

Alat ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan suhu pengeringan yang stabil hingga 60 derajat Celsius. Suhu ini sangat penting untuk menjaga kualitas biji pala, sekaligus mempertahankan nilai jual dari hasil panen. Dalam satu kali proses, alat ini dapat menampung hingga 1.000 biji pala, memberikan efisiensi yang sangat dibutuhkan oleh petani.

Michel Obrien, perwakilan dari Tim TEP Universitas Hasanuddin, menjelaskan lebih lanjut tentang desain alat ini. “Di bagian atas alat terdapat ruang khusus dengan lima tray, yang mampu mengeringkan sekitar seribu biji pala dalam satu waktu,” jelasnya.

Adopsi teknologi pertanian ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya modernisasi sektor pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Inovasi seperti ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mencapai tujuan tersebut.

Di sisi lain, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan perlunya aksi nyata dari Tim Ekspedisi Patriot setelah melakukan survei langsung di lapangan. Ia ingin agar program ini tidak berhenti pada tahap pengamatan, tetapi dapat menghadirkan solusi yang relevan dan terukur.

“Jangan sampai tim Ekspedisi Patriot hanya turun ke lapangan, mendengarkan keluhan masyarakat, lalu berhenti di situ. Penting untuk menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, dan praktis,” ujar Menko AHY saat kunjungan ke Jayapura pada 17 September.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga mendorong para pemuda untuk mengambil inisiatif dan berupaya mandiri dalam mencari solusi atas masalah yang mereka temui di lapangan. Hal ini sejalan dengan tujuan meningkatkan kemandirian dan daya saing masyarakat lokal.

Exit mobile version