Site icon Judal Jadul

Sopir dan Ojol Melakukan Mogok Massal, Krisis Energi Filipina Meningkat Akibat Lonjakan Harga BBM

Krisis energi yang berakar dari ketegangan di Timur Tengah kini mulai menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat Asia. Di Filipina, dampak nyata dari lonjakan harga bahan bakar telah memicu aksi mogok massal yang melibatkan para pekerja transportasi.

Ratusan sopir di Manila berunjuk rasa untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap kenaikan harga solar dan bensin yang telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari.

Seorang supir berusia 62 tahun mengungkapkan kesulitan yang ia hadapi, di mana ia merasa tidak mampu memberi makan lima anaknya dan belum menerima bantuan tunai yang dijanjikan pemerintah.

“Saya tidak mendapatkan bantuan, tidak ada penghasilan, dan tidak ada makanan untuk keluarga,” ungkapnya, seperti yang dilaporkan oleh berbagai sumber media.

Aksi mogok ini dipimpin oleh koalisi serikat transportasi yang dikenal dengan nama Piston. Mereka mengajukan berbagai tuntutan, mulai dari penghapusan pajak bahan bakar, penurunan harga minyak, hingga campur tangan pemerintah dalam sektor energi. Selain itu, mereka juga menuntut kenaikan tarif transportasi dan upah bagi para pengemudi.

Di antara mereka, pengemudi jeepney, yang merupakan angkutan umum khas Filipina, adalah kelompok yang paling merasakan dampak. Pengemudi ojek online dan kendaraan pribadi juga turut menyuarakan protes terhadap situasi ini.

Banyak di antara mereka yang mengaku belum menerima bantuan sebesar 5.000 peso yang sebelumnya dijanjikan oleh pemerintah. Salah seorang pengemudi, Anjo Lilac, bahkan membawa anaknya saat berunjuk rasa karena tidak ada yang bisa menjaga di rumah.

Ia berharap bantuan dari pemerintah dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, sewa rumah, dan susu untuk bayinya. Keluhan serupa juga disampaikan oleh sopir lainnya yang merasa seperti “dicekik” oleh keadaan.

“Kami tidak tahu dari mana kami bisa mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga,” ujarnya. Ia menekankan bahwa solusi yang diharapkan bukan hanya bantuan tunai, melainkan penurunan harga barang-barang pokok seperti bahan bakar, listrik, dan air.

Sementara itu, dampak dari aksi mogok mulai dirasakan oleh masyarakat umum. Warga Manila, yang sudah terbiasa dengan kemacetan parah, kini harus antre untuk mendapatkan transportasi gratis yang disediakan oleh pemerintah.

Seorang pekerja bernama Arnold Irinco mengaku harus menunggu hingga 30 menit untuk mendapatkan transportasi, namun ia tetap memahami alasan di balik aksi para supir tersebut. “Saya bisa mengerti perjuangan mereka. Ini menyangkut mata pencaharian mereka,” ujarnya.

Exit mobile version