Site icon Judal Jadul

Rupiah Tertekan Akibat Upaya Pemerintah Menjaga Defisit APBN di Tengah Fluktuasi Harga Minyak

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus mengalami volatilitas, meskipun ditutup dengan posisi yang lebih rendah pada sesi perdagangan terbaru.

Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor BI) menunjukkan bahwa pada tanggal 2 April 2026, kurs rupiah berada di Rp 17.015 per dolar AS. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 13 poin dibandingkan dengan kurs sebelumnya yang tercatat di Rp 17.002 pada hari Rabu, 1 April 2026.

Di pasar spot, pada Senin, 6 April 2026, hingga pukul 09.04 WIB, nilai tukar rupiah tercatat berada di Rp 16.997 per dolar AS. Ini menunjukkan pelemahan sebesar 17 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.980 per dolar AS.

Menurut pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, pemerintah memprediksi bahwa defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) akan meluas melebihi target yang telah ditetapkan, terutama akibat meningkatnya belanja subsidi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak global yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah.

Ibrahim menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan akan menambah defisit sebesar Rp 6 triliun, yang sebelumnya ditargetkan mencapai Rp 689,1 triliun atau sekitar 2,68 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Meskipun pemerintah yakin bahwa defisit APBN tetap berada di bawah batas aman 3 persen, proyeksinya bisa melebar hingga 2,9 persen terhadap PDB, terutama jika harga minyak tetap berada di level US$100 per barel secara konsisten sepanjang tahun.

Namun, pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk beradaptasi. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi harga minyak dunia yang belum stabil. Target defisit APBN untuk tahun 2026 diharapkan mencapai 2,68 persen dari PDB, dengan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) berada di sekitar US$70 per barel.

Pelebaran defisit ini tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya belanja subsidi. APBN diharapkan akan berfungsi sebagai penyangga terhadap lonjakan harga minyak, terutama setelah pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, anggaran untuk subsidi energi dapat meningkat hingga Rp100 triliun demi menanggulangi kenaikan harga minyak.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk melakukan penghematan yang lebih ketat sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan harga minyak yang dapat mencapai US$100 per barel sepanjang tahun. Beberapa langkah yang diambil termasuk pengurangan belanja kementerian dan lembaga hingga tiga tahap, serta pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menutupi defisit.

Meskipun mata uang rupiah menunjukkan fluktuasi, pada akhirnya ditutup dengan pelemahan di rentang Rp 17.000-Rp 17.040.

Exit mobile version