Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa ia telah menelaah proposal terbaru dari Iran yang bertujuan untuk menyelesaikan ketegangan antara kedua negara.
Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa usulan yang diajukan oleh Iran tersebut tidak bisa diterima oleh pihaknya.
“Saya tidak bisa menerima proposal itu. Saya telah mempelajarinya secara menyeluruh — hal itu tidak dapat diterima,” ujar Trump dalam wawancaranya dengan penyiar Israel, seperti yang dilaporkan pada 4 Mei 2026.
Di sisi lain, Trump juga menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Israel dilaporkan berjalan dengan sangat baik.
Pada hari yang sama, Al Jazeera menginformasikan, mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, bahwa Iran telah mengusulkan rencana tiga tahap kepada AS untuk mencapai perdamaian jangka panjang. Rencana itu mencakup penghentian kegiatan pengayaan uranium selama 15 tahun.
Tahap pertama dari rencana tersebut berfokus pada penghentian total permusuhan antara AS dan Iran dalam waktu 30 hari, serta penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan. Di dalam tahap ini juga diusulkan kesepakatan non-agresi yang melibatkan kedua negara serta sekutu Iran di kawasan dan Israel.
Rencana tersebut juga mencakup pembentukan mekanisme pemantauan internasional untuk memastikan tidak ada pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.
Tahap kedua dari proposal itu berisi rencana untuk membekukan semua kegiatan pengayaan uranium selama 15 tahun. Langkah ini akan dilanjutkan dengan pembatasan tingkat pengayaan hingga 3,6 persen sesuai dengan prinsip penyimpanan nol.
Untuk tahap ketiga, yang bersifat jangka panjang, diharapkan dapat dibuka dialog strategis antara Iran dan negara-negara Arab serta tetangga di kawasan, guna membangun sistem keamanan yang saling menguntungkan.
Sumber yang dipublikasikan oleh Sputnik/RIA Novosti-OANA menjelaskan bahwa rencana ini merupakan upaya Iran untuk mencapai stabilitas di kawasan, meskipun tantangan dalam pelaksanaannya tetap ada.

