Polo Air Dikenal Sebagai ‘Sepak Bola Air’, Akuatik Indonesia Siapkan Asosiasi Baru

Jakarta – Dalam konteks olahraga akuatik di Indonesia, perhatian tidak hanya berfokus pada perolehan medali, tetapi juga pada pengembangan dan keberlanjutan pembinaan. Federasi Akuatik Indonesia mulai menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap pengelolaan cabang olahraga yang memiliki potensi tinggi, baik dari sisi prestasi maupun industri. Salah satu cabang yang mendapat sorotan adalah polo air, yang sering dijuluki sebagai “sepak bolanya air”.
Usulan untuk mengembangkan polo air muncul setelah dilakukannya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Federasi Akuatik Indonesia Tahun 2026 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum Akuatik Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan adanya kajian serius untuk merancang pola pengelolaan khusus bagi polo air, tetap di bawah naungan federasi.
Anindya menjelaskan bahwa karakteristik polo air berbeda dari cabang akuatik lain seperti renang, loncat indah, atau renang indah. Sebagai olahraga tim, polo air memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dalam hal pembinaan, pendanaan, dan penyelenggaraan kompetisi.
“Polo air adalah olahraga tim yang bisa disamakan dengan sepak bola di darat. Oleh karena itu, perhatian dan penanganan yang lebih khusus diperlukan, termasuk dalam hal pendanaan, pelatihan, serta keberlanjutan kompetisi,” tegas Anindya setelah Rakernas kepada para wartawan.
Dalam Rakernas tersebut, muncul gagasan untuk mengelola polo air melalui asosiasi terpisah, sambil tetap berada di bawah naungan Akuatik Indonesia. Ini bukanlah ide baru, melainkan sudah dibicarakan sejak satu hingga dua tahun terakhir.
Anindya menegaskan bahwa langkah ini masih dalam tahap kajian, termasuk dari sudut pandang hukum dan organisasi. Federasi berkomitmen untuk memastikan bahwa model pengelolaan baru tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi.
“Arah pengelolaan memang menuju ke sana. Kita hanya perlu mencari bentuk yang paling tepat agar penanganan menjadi lebih fokus tanpa merubah struktur besar federasi,” ungkapnya.
Ia memberikan contoh model yang diterapkan pada cabang olahraga lain, seperti futsal yang berada di bawah PSSI, di mana federasi induk mengelola beberapa asosiasi atau sub-organisasi khusus. Pendekatan ini dinilai dapat membuat pembinaan menjadi lebih terarah dan kompetisi berjalan lebih konsisten.