Ekonomi China diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dari yang diharapkan oleh pemerintah pada kuartal III 2026. Survei yang dilakukan oleh AFP terhadap sejumlah analis menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara ini masih tertekan oleh berbagai faktor, termasuk krisis energi, ketegangan geopolitik, serta masalah utang yang semakin menambah kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China telah menghadapi tantangan serius dalam mengatasi penurunan yang berkepanjangan di sektor properti, yang sebelumnya merupakan salah satu pilar pertumbuhan. Situasi ini telah mengikis kepercayaan konsumen dan memperlambat aktivitas ekonomi di seluruh negeri.
Stagnasi pertumbuhan ini terjadi bersamaan dengan berbagai guncangan besar yang mempengaruhi ekonomi global, antara lain pandemi Covid-19, konflik perdagangan yang terus berulang, serta sejumlah konflik bersenjata yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Para ekonom yang terlibat dalam survei AFP memperkirakan bahwa data resmi yang akan dipublikasikan pada hari Senin mendatang akan menunjukkan pertumbuhan tahunan ekonomi terbesar kedua di dunia ini sebesar 4,4 persen untuk periode Juli hingga September.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan kecil dibandingkan dengan pertumbuhan 4,3 persen yang tercatat pada kuartal II. Namun, capaian ini masih jauh dari target pertumbuhan yang ditetapkan oleh pemerintah China tahun ini, yaitu antara 4,5 hingga 5 persen, yang merupakan target terendah dalam beberapa dekade terakhir.
“Data yang ada menunjukkan bahwa perekonomian China kehilangan momentum selama periode ini,” ungkap Sheana Yue, seorang ekonom senior dari Oxford Economics, dalam wawancaranya dengan AFP, seperti yang dilaporkan oleh Freemalaysiatoday pada Rabu (21/10/2026).
Menurut Yue, tantangan paling signifikan yang dihadapi China adalah rendahnya permintaan domestik yang terus berlanjut, khususnya dalam hal konsumsi masyarakat dan investasi di sektor properti. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan belanja infrastruktur, hal ini diperkirakan tidak akan cukup untuk mengatasi masalah tersebut dalam waktu dekat.
Proyeksi pertumbuhan yang kurang menggembirakan ini muncul di tengah Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, di mana para pejabat dan ahli ekonomi berkumpul untuk membahas berbagai isu ekonomi yang mendesak.
Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada Selasa minggu lalu, IMF sedikit meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026. Namun, lembaga tersebut memberikan peringatan tentang adanya kondisi ekonomi yang terfragmentasi, yang disertai dengan berbagai risiko yang menguji ketahanan ekonomi di seluruh dunia.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa perkembangan pesat dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) baru-baru ini telah merangsang aktivitas ekonomi baru. Namun, lonjakan tajam biaya energi akibat konflik di Iran serta meningkatnya utang pemerintah menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi global.

