Jakarta – Insiden peretasan yang menimpa platform bursa kripto Binance kini menjadi fokus perhatian pihak berwenang di Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, pada Jumat (30/10), memberikan pernyataan terbaru terkait perkembangan penyelidikan tersebut. “Kami masih mengumpulkan informasi. Kami sedang memantau situasi ini, dan memang benar bahwa telah terjadi peretasan pada Binance,” ungkap Trump ketika ditanya oleh wartawan mengenai potensi keterlibatan kelompok peretas dari Korea Utara dalam insiden ini.
Peretasan ini diperkirakan telah menimbulkan kerugian yang signifikan, dengan nilai aset kripto yang terpengaruh mencapai sekitar 6,3 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp114,17 triliun. Saat ini, tim internal di Binance tengah menyelidiki adanya aktivitas penarikan dana yang dilakukan tanpa izin dari platform mereka.
Perdagangan dan transaksi dalam aset digital selalu membawa tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem keuangan tradisional, seperti transaksi melalui cek tunai. Pendiri Binance, Changpeng Zhao, mengonfirmasi pada Kamis malam (29/10) bahwa platformnya telah menjadi sasaran serangan siber, namun ia menekankan bahwa dana pengguna tetap dalam keadaan aman.
Tim manajemen di Binance menginformasikan bahwa proses pemulihan sistem saat ini berjalan sesuai dengan rencana. Mereka berharap bisa mengembalikan akses layanan penarikan dana kepada pengguna dalam waktu 45 jam ke depan.

