Site icon Judal Jadul

Pabrikan Meminta Pengguna EV Mendapatkan Keistimewaan di Jalan Raya

Jakarta – Upaya untuk mempercepat penerimaan kendaraan listrik (EV) di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kebijakan insentif yang belum mencakup semua aspek kepemilikan. Frans Soerjopranoto, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, menekankan bahwa insentif yang ada saat ini lebih terfokus pada tahap awal pembelian kendaraan.

Frans menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak cukup efektif untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik secara luas. Pasalnya, keputusan konsumen dalam memilih kendaraan tidak hanya dipengaruhi oleh harga awal, tetapi juga oleh biaya operasional dalam jangka panjang.

Menurutnya, desain insentif seharusnya lebih komprehensif, mempertimbangkan pengalaman pengguna selama masa kepemilikan. Ia mencontohkan bahwa kendaraan listrik, yang memiliki emisi rendah, seharusnya mendapatkan manfaat tambahan dalam penggunaannya sehari-hari.

“Jika kendaraan tersebut lebih ramah lingkungan, semestinya ada keuntungan yang dirasakan saat digunakan. Contohnya, saat melintasi tol atau saat parkir, pengguna seharusnya mendapatkan kelebihan,” ungkap Frans di Jakarta baru-baru ini.

Pernyataan ini menunjukkan perlunya perubahan dalam kebijakan terkait kendaraan listrik. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah lebih berfokus pada potongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau pembebasan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang hanya berdampak pada harga jual.

Padahal, dalam konteks yang lebih luas, faktor biaya operasional dan kemudahan penggunaan menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Insentif yang berbasis pada penggunaan dinilai dapat memberikan nilai tambah yang lebih nyata, sekaligus meningkatkan daya saing kendaraan listrik dibandingkan dengan mobil berbahan bakar konvensional.

Frans juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap ekosistem kendaraan listrik, termasuk peran jaringan dealer. Ia menyatakan bahwa edukasi kepada konsumen merupakan salah satu kunci dalam mempercepat adopsi teknologi baru ini.

Menurutnya, dealer tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan, tetapi juga sebagai ujung tombak dalam memberikan pemahaman mengenai karakteristik dan keunggulan kendaraan listrik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang juga mempertimbangkan peran vital tersebut.

“Dealer berperan dalam mengedukasi konsumen, menjelaskan teknologi dan manfaat dari kendaraan listrik. Ini memerlukan upaya tambahan, sehingga perlu ada dukungan yang memadai,” jelasnya.

Exit mobile version