Orang Tua Juga Bisa Durhaka: Memahami Dinamika Hubungan Keluarga yang Kompleks

Dalam interaksi sehari-hari, istilah ‘durhaka’ sering kali hanya dipandang sebagai perilaku anak terhadap orang tua. Sejak kecil, kita diajarkan untuk menghormati, menaati, dan mencintai orang tua kita sebagai bentuk pengabdian, mengingat mereka adalah sosok yang telah memberikan hidup, perhatian, dan kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan.
Namun, jika kita menyelami lebih dalam, kita akan menemukan bahwa konsep durhaka tidaklah sepihak. Banyak kasus menunjukkan bahwa ada kalanya orang tua juga berperilaku sedemikian rupa sehingga tindakan mereka dapat dianggap sebagai kedurhakaan terhadap anak-anak mereka sendiri.
Jadi, bukan hanya anak yang bisa dianggap durhaka terhadap orang tua, tetapi orang tua pun dapat dicap demikian terhadap anak-anak mereka. Hal ini diungkapkan oleh Habib Jafar, yang menekankan bahwa dalam perspektif Islam terdapat istilah yang merujuk pada orang tua yang durhaka kepada anak. Sayangnya, konsep ini jarang dibahas secara terbuka.
“Salah satu kekurangan dalam dakwah Islam dan pemahaman budaya di Indonesia adalah kita hanya mengenal istilah anak durhaka. Padahal, dalam Islam dan tradisi Indonesia seharusnya ada juga istilah orang tua durhaka kepada anak,” ungkap Habib Jafar dalam sebuah tayangan di YouTube.
Lalu, bagaimana kita mengenali tanda atau ciri-ciri orang tua yang durhaka kepada anaknya? Menurut penjelasan yang terdapat dalam Al Quran dan perkataan Sayyidina Umar, salah satu indikator orang tua yang durhaka adalah ketidakmampuan mereka untuk mendoakan anak-anaknya.
“Kadang kita mendapati orang tua yang durhaka. Siapa mereka? Dalam Al Quran disebutkan, dan Sayyidina Umar juga menyebutkan bahwa orang tua yang tidak mendoakan anak-anaknya adalah orang tua yang durhaka,” jelas Habib Jafar.
Lebih lanjut, Habib Jafar menyatakan bahwa orang tua dapat dianggap durhaka jika mereka tidak memberikan nama yang baik bagi anak-anak mereka. Selain itu, orang tua juga dapat dicap durhaka jika mereka gagal memberikan akses pendidikan yang layak sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.
“Intinya, orang tua yang tidak melaksanakan kewajiban terhadap anaknya dan tidak memberikan hak-hak anaknya dapat dianggap durhaka. Kedurhakaan ini bisa terjadi dari orang tua kepada anak, dan berapa banyak anak yang terabaikan karena orang tuanya tidak memenuhi tanggung jawab tersebut. Misalnya, orang tua yang tidak memiliki kemampuan finansial tetapi tetap memaksakan untuk memiliki banyak anak,” tambahnya.