Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah mencapai fase kritis, bertepatan dengan perayaan yang seharusnya menjadi momen bahagia. Di tengah umat Muslim yang merayakan Idulfitri dan masyarakat Iran yang menyambut Tahun Baru Persia (Nowruz), serangkaian serangan telah mengguncang stabilitas di Teluk serta di Teheran.
Konflik yang dulunya terbatas kini telah berkembang menjadi eskalasi terbuka yang menyerang infrastruktur energi penting, menimbulkan kekhawatiran akan potensi krisis global, terutama dalam sektor minyak dan gas.
Menurut laporan yang beredar, serangan terbaru terjadi di Kuwait, di mana kilang minyak terbesar negara tersebut, Mina al-Ahmadi, diserang oleh drone selama dua hari berturut-turut.
Pihak berwenang Kuwait tidak menyebutkan secara langsung siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, insiden ini bertepatan dengan meningkatnya operasi militer Iran di kawasan Teluk, setelah sebelumnya Israel melancarkan serangan ke ladang gas South Pars awal pekan ini.
Kilang minyak yang memiliki kapasitas produksi sekitar 730 ribu barel per hari itu dilaporkan mengalami kebakaran di beberapa unit, yang memaksa penghentian sebagian operasionalnya.
Api dilaporkan melanda sejumlah unit produksi pada pagi hari Jumat. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, pihak berwenang setempat terpaksa menghentikan beberapa aktivitas di kilang. Militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka tetap aktif dalam menghadapi ancaman rudal dan drone yang mungkin memasuki wilayah udara mereka.
Serangan yang terjadi di Kuwait bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Iran diketahui telah melancarkan serangan yang lebih luas ke berbagai negara Teluk sebagai respons terhadap serangan Israel sebelumnya di ladang gas South Pars, yang merupakan salah satu sumber energi utama bagi Iran.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan sejumlah lokasi strategis, termasuk pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Uni Emirat Arab serta beberapa titik di wilayah Israel.
Negara-negara di Teluk kini dalam keadaan siaga penuh. Uni Emirat Arab melaporkan adanya ancaman dari rudal dan drone yang masuk, sementara Bahrain menyatakan bahwa serpihan dari serangan Iran menyebabkan kebakaran di gudang-gudang lokal. Arab Saudi juga melaporkan bahwa mereka berhasil menghancurkan lebih dari belasan drone hanya dalam waktu dua jam.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa serangan yang terjadi baru merupakan sebagian kecil dari kemampuan militer yang dimiliki oleh negaranya.

