Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang terus meningkat jumlahnya, termasuk di Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai “silent killer” karena gejalanya sering kali tidak disadari hingga komplikasi serius muncul.
Salah satu komplikasi yang harus diwaspadai adalah kondisi kaki diabetes, yang dapat berakhir pada amputasi jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Untuk informasi lebih lanjut, mari kita telaah lebih dalam.
Dr. Wirawan Hambali, Sp. P.D, FINASIM, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Pondok Indah (RSPI) – Puri Indah, menjelaskan bahwa diabetes melitus yang tidak terkelola dengan baik dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ, termasuk saraf dan pembuluh darah di kaki. Kerusakan ini dapat mengakibatkan luka kronis dan risiko infeksi yang cukup serius.
“Diabetes melitus, yang lebih umum dikenal sebagai diabetes, dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani secara tepat dan segera, salah satunya adalah kaki diabetes yang bisa berujung pada amputasi,” ungkap dr. Wirawan dalam sebuah sesi temu media di Jakarta.
Diabetes melitus sendiri adalah penyakit metabolik kronis yang dicirikan oleh peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan dalam sekresi insulin, resistensi insulin, atau kombinasi dari keduanya. Penyakit ini terbagi menjadi beberapa tipe, termasuk tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, serta tipe spesifik lain yang berkaitan dengan penyebab tertentu seperti kelainan genetik atau efek samping obat-obatan.
Pada tahap awal, gejala diabetes sering kali tidak jelas. “Beberapa tanda yang umum muncul antara lain penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, sering merasa lapar (polifagia), frekuensi buang air kecil yang meningkat (poliuria), dan perasaan haus yang berlebihan (polidipsia). Namun, banyak penderita yang tidak menyadari kondisi ini hingga muncul komplikasi yang lebih serius,” jelas dr. Wirawan.
Salah satu komplikasi jangka panjang yang paling umum adalah kaki diabetes atau Diabetic Foot Ulcer (DFU). Diperkirakan, sekitar 15 persen dari pasien diabetes mengalami kondisi ini, dan sekitar 85 persen kasus amputasi pada tungkai bawah berhubungan dengan diabetes.
“Diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf (neuropati diabetik) serta mengurangi sirkulasi darah di area kaki, sehingga membuat kaki lebih rentan terhadap infeksi dan luka yang memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh,” tambah dr. Wirawan.
Kondisi kaki mati rasa diabetes adalah salah satu tanda awal yang dapat menjadi indikasi serius. Oleh karena itu, penting bagi penderita diabetes untuk mengenali gejala ini dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Mendeteksi gejala sejak dini menjadi kunci untuk memberikan penanganan yang tepat. Kaki mati rasa dapat menjadi pertanda bahwa saraf di kaki mengalami kerusakan. Hal ini bisa disebabkan oleh peningkatan kadar gula darah yang berkepanjangan, yang berujung pada neuropati diabetik.
Gejala lain yang sebaiknya diperhatikan adalah kesulitan saat berjalan, rasa nyeri atau kesemutan di kaki, serta perubahan warna kulit yang bisa menunjukkan peredaran darah yang buruk. Kesadaran akan gejala-gejala ini penting untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Pentingnya menjaga kadar gula darah tetap stabil tidak bisa diabaikan. Penderita diabetes disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin dan pengawasan terhadap kadar gula darah. Pengobatan yang tepat dan perubahan gaya hidup yang positif akan sangat membantu dalam pengelolaan penyakit ini.
Selain itu, menjaga kesehatan kaki juga sangat krusial. Penderita diabetes harus melakukan perawatan kaki secara rutin, seperti memeriksa apakah ada luka, lecet, atau infeksi yang muncul. Memakai sepatu yang nyaman dan tidak terlalu ketat juga dapat mencegah terjadinya cedera.
Dengan berbagai komplikasi yang bisa ditimbulkan oleh diabetes, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kesadaran dan pengetahuan tentang penyakit ini akan membantu penderita diabetes untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
Sebagai penutup, kaki mati rasa diabetes adalah tanda yang tidak boleh diabaikan. Dengan penanganan yang tepat dan kesadaran akan gejala-gejala yang muncul, penderita diabetes dapat mencegah komplikasi serius yang dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka.

