Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, kembali menghadapi kritik keras dari publik. Sebelumnya, ia sudah disorot terkait renovasi rumah dinas yang menelan biaya sebesar Rp 25 miliar dan pengadaan mobil dinas senilai Rp 8,5 miliar.
Kini, sorotan tajam mengarah pada pengadaan kursi pijat yang dibanderol dengan harga Rp 125 juta. Dalam penjelasannya, Rudy mengungkapkan bahwa ia sering mengemudikan mobil dinasnya sendiri untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Oleh karena itu, keberadaan kursi pijat dianggapnya penting untuk mendukung kebugaran fisik yang terkuras akibat perjalanan panjang tersebut.
“Kursi pijat memang ada, dan itu disediakan untuk saya. Kasihan kalau Gubernur harus berkendara sendiri jarak ribuan kilometer. Kami biasanya berangkat sebelum matahari terbit dan baru sampai saat matahari terbenam. Saya juga harus mengemudikan mobilnya sendiri,” ungkapnya dalam sebuah wawancara di saluran YouTube pada Minggu, 26 April 2026.
Lebih lanjut, Rudy Mas’ud menyatakan bahwa kondisi fisiknya yang sering kelelahan membuat pegawainya merasa prihatin.
“Mungkin rekan-rekan di sekitar saya merasa kasihan dengan keadaan ini. Terkadang saya juga sendirian di rumah, tanpa teman,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengeluaran untuk kursi pijat tersebut bukanlah keputusan yang diambil secara impulsif. Rudy menyebutkan bahwa anggaran untuk kursi pijat tersebut telah direncanakan dalam dokumen anggaran resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk periode 2024/2025.
“Itu semua bagian dari anggaran tahun 2024-2025,” tegasnya.
Rudy berharap masyarakat bisa memahami posisinya dan memberikan doa serta dukungan, alih-alih melontarkan kritik yang pedas kepada dirinya.
“Saya harap masyarakat menyadari bahwa pemimpin seharusnya didoakan, bukan dibuli. Bagaimana cara kita bisa membangun jika tidak saling mendukung? Saya berharap rekan-rekan media dapat menyampaikan hal ini, meskipun mungkin sulit,” ujarnya.
Aksi demonstrasi di Kalimantan Timur baru-baru ini menjadi perhatian publik.
Sebelumnya, pada Senin, 21 April, terjadi aksi protes besar-besaran terkait penggelembungan belanja daerah yang dinilai tidak wajar.
Menanggapi aksi tersebut, Rudy Mas’ud memberikan pernyataan resmi. Namun, ia tidak meminta maaf, melainkan mengapresiasi suara masyarakat dan menyinggung tentang masa depan Kalimantan Timur.
Rudy mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa, masyarakat, dan aparat keamanan yang telah menjaga situasi tetap kondusif selama aksi berlangsung. Ia menekankan bahwa masukan dari publik sangat penting dalam evaluasi kinerja pemerintah daerah.

