Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengeluarkan pernyataan tegas mengenai penerapan sanksi pengurangan poin bagi klub-klub sepak bola di Indonesia yang tidak mampu mengendalikan suporter mereka dari tindakan anarkis. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya insiden kekerasan yang melibatkan kelompok suporter.
Pernyataan ini muncul setelah dua kejadian penyerangan yang melibatkan suporter yang tidak bertanggung jawab. Insiden tersebut mengindikasikan adanya masalah serius yang perlu ditangani oleh semua pihak yang terlibat dalam dunia sepak bola di Indonesia.
Erick menyoroti dua kejadian penting, yaitu serangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, dan penyerangan terhadap suporter Persija di Tol Palikanci, Cirebon. Ia menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi perhatian utama bagi setiap orang yang terlibat dalam sepak bola nasional.
Menurut Erick, tindakan kekerasan yang terjadi sudah melampaui batas rivalitas antar suporter dan mulai mengarah pada tindakan kriminal. Ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar perselisihan biasa, melainkan sudah menjadi ancaman bagi keselamatan.
“Saya berkomitmen untuk mendorong pengurangan poin bagi klub-klub yang tidak dapat menjaga perilaku suporternya. Namun, kami akan memberikan kesempatan terlebih dahulu untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama,” ungkap Erick dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Ia memberikan contoh konkret dengan menyebutkan video penyerangan terhadap bus tim EPA Persib, di mana oknum suporter terlihat membawa alat tumpul yang digunakan untuk merusak bus. Erick mempertanyakan motivasi di balik tindakan tersebut, terutama mengapa seseorang merasa perlu membawa alat pemukul saat hendak menonton pertandingan sepak bola.
“Apakah ada logika menonton sepak bola dengan membawa alat pemukul? Ini jelas menunjukkan bahwa sudah ada niat untuk melakukan kekerasan. Dan ini juga terjadi pada suporter yang lain yang melakukan balasan,” tegasnya.
Erick menambahkan bahwa PSSI telah memberikan kesempatan kepada operator liga dan klub untuk bersepakat mengenai mekanisme yang bisa menjamin keamanan pertandingan, termasuk keselamatan para suporter. Namun, jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, maka PSSI tidak akan ragu untuk melakukan intervensi.
Ia juga menyampaikan kemungkinan pemberlakuan larangan bagi suporter tim tamu jika situasi keamanan tidak dapat dipastikan. “Bisa jadi kita tidak akan memperbolehkan lagi suporter away,” ujarnya dengan nada serius.
Komitmen untuk menjaga keamanan pertandingan, menurut Erick, sebenarnya telah menjadi kesepakatan bersama di antara operator liga dan klub sejak awal. Larangan bagi kehadiran suporter tim tamu pun telah diberlakukan hampir empat tahun sebelum pada musim ini mereka diizinkan kembali hadir di stadion.
Namun, dengan munculnya kembali insiden kekerasan, komitmen tersebut mulai dipertanyakan. Erick berharap agar klub dan suporter dapat menjaga kepercayaan yang telah diberikan, sehingga pertandingan sepak bola di tanah air tidak lagi ternodai oleh aksi-aksi anarkis yang merugikan.

