Perjalanan menciptakan sebuah usaha sering kali dipandang glamor oleh orang-orang di luar. Namun, di balik kisah sukses yang tampak, terdapat serangkaian tantangan, keputusan sulit, dan risiko kerugian yang tidak sedikit.
Pengalaman ini dirasakan oleh Prayogo Waluyo, yang lebih akrab dipanggil Pakde. Bersama istrinya, Kak Ciwid, ia berhasil membangun merek kecantikan HIQWEEN yang kini dikenal dengan produk perawatan kulit yang berfokus pada solusi untuk flek hitam, terutama bagi wanita dewasa. Mari kita telusuri perjalanan inspiratif ini lebih lanjut.
Awal mula usaha Pakde dimulai dari langkah yang cukup sederhana. Saat masih menjalani pendidikan sebagai mahasiswa, ia sudah terjun ke dunia bisnis dengan menjadi reseller produk kecantikan, yang dilakukannya sambil menjalankan tugasnya sebagai dosen.
Di fase awal merintis bisnis, Pakde harus melaksanakan hampir semua aspek pekerjaan sendiri. Dari mengemas produk hingga mengantarkannya ke jasa pengiriman, semuanya dilakukan meskipun kondisi cuaca tidak mendukung.
Pada saat yang bersamaan, penghasilan yang ia peroleh dari profesinya sebagai dosen sebagian besar digunakan untuk membayar cicilan rumah. Rutinitas yang melelahkan ini, menurut pandangannya, merupakan fase krusial yang membentuk mental dan ketahanan sebelum bisnisnya berkembang lebih jauh.
Sebuah perubahan signifikan terjadi pada tahun 2022. Pakde mengambil keputusan untuk meninggalkan kariernya sebagai dosen dan sepenuhnya berfokus pada bisnis yang ia jalani bersama istrinya. Pilihan ini diambil setelah mempertimbangkan latar belakang keluarganya yang banyak berkecimpung di bidang kesehatan.
Meskipun demikian, ia memilih untuk menempuh jalan yang berbeda dengan terjun ke dunia usaha, memanfaatkan strategi pemasaran melalui platform media sosial. Salah satu pendekatan yang efektif adalah mengedukasi konsumen tentang bahaya bahan berbahaya seperti merkuri dalam produk kecantikan, yang membantu membangun kepercayaan mereka.
Namun, perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Tahun 2023 menjadi salah satu periode tersulit bagi usahanya, di mana HIQWEEN mengalami kerugian yang mencapai lebih dari Rp6 miliar akibat manajemen tim yang belum terorganisir dengan baik.
Alih-alih menyerah, pengalaman pahit tersebut justru menjadi momen refleksi bagi Pakde untuk memperbaiki sistem bisnisnya. Ia mulai merapikan struktur manajemen, memperjelas alur kerja, dan meningkatkan pengawasan terhadap kualitas produk yang ditawarkan.
Seiring berjalannya waktu, perubahan yang dilakukan mulai menunjukkan hasil yang nyata. Aktivitas pengiriman produk yang sebelumnya terbatas kini meningkat pesat, bahkan sempat mencapai sekitar 28.000 resi per hari—sebuah pencapaian yang menandakan perkembangan signifikan dalam operasional bisnisnya.

