Sebanyak 179.037 warga di Kabupaten Nagekeo terpaksa mengungsi akibat serangkaian gempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa sebagian besar pengungsi tidak mengalami dampak langsung dari gempa tersebut. Ketakutan yang mendalam akan gempa susulan dan informasi yang menyesatkan di media sosial menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat untuk meninggalkan rumah mereka.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, memberikan informasi terbaru mengenai penanganan bencana gempa Flores dalam sebuah tayangan YouTube bersama Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Suharyanto menjelaskan, “Namun tidak ada gempa yang melebihi magnitudo 7,7. Ada gempa berkekuatan 6,2 yang akan dijelaskan lebih lanjut oleh Kepala BMKG.”
Sejak 15 Agustus 2026, BNPB mencatat telah terjadi 143 gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat. Jumlah ini menunjukkan peningkatan satu kali dibandingkan data sebelumnya.
“Hingga saat ini, kami mencatat 143 gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat, sebelumnya hanya 142 kali,” lanjut Suharyanto.
Presiden Prabowo kemudian meminta untuk mengonfirmasi periode penghitungan tersebut. “Apakah dari hari ini?” tanyanya.
Suharyanto menjawab, “Penghitungan dimulai dari tanggal 15 hingga saat ini. Jika hari ini hanya satu kali gempa yang dirasakan, Bapak Presiden.”
Menurut Suharyanto, meningkatnya frekuensi gempa susulan telah menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu penyebab melonjaknya jumlah pengungsi yang kini mencapai 179.037 orang.
Ia menegaskan bahwa jumlah pengungsi yang tinggi tidak sepenuhnya akibat kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh gempa. Banyak warga yang lebih memilih untuk mengungsi karena ketakutan akan kemungkinan gempa susulan.
“Banyak dari mereka yang mengungsi disebabkan oleh rasa takut,” ungkapnya.
Kepanikan yang melanda masyarakat juga diperparah oleh berbagai informasi yang beredar di media sosial. Informasi tersebut mencakup prediksi akan terjadinya gempa yang lebih besar dan potensi tsunami.
“Jumlah pengungsi yang banyak ini bukan hanya disebabkan oleh dampak langsung gempa, tetapi lebih kepada ketakutan akibat banyaknya gempa susulan dan isu-isu yang beredar di media sosial mengenai kemungkinan gempa yang lebih besar, bahkan tsunami,” jelas Suharyanto.
Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik akibat bencana, tetapi juga dalam upaya meredakan kepanikan masyarakat serta mengatasi informasi yang tidak benar dan menyesatkan.

