Susu merupakan salah satu sumber nutrisi penting yang kaya akan protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun, bagi sebagian orang, mengonsumsi susu dapat memicu ketidaknyamanan di sistem pencernaan mereka.
Gejala seperti perut kembung, nyeri perut, gas berlebih, bahkan diare setelah mengonsumsi susu dapat menjadi indikator adanya intoleransi laktosa. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup enzim laktase yang berfungsi untuk mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu.
Dokter Farhan Zubedi menjelaskan bahwa laktase memiliki peranan penting dalam proses pencernaan laktosa.
“Ketidakcukupan enzim laktase membuat laktosa tidak dapat diubah menjadi glukosa dan galaktosa. Jika laktase tidak ada, laktosa pun tidak bisa dicerna dan akhirnya mencapai usus besar,” jelas dr. Farhan dalam wawancaranya, yang dikutip pada 29 Agustus 2026.
Setibanya di usus besar dalam keadaan tidak tercerna, laktosa akan difermentasi oleh bakteri. Proses inilah yang dapat menyebabkan berbagai gangguan pencernaan bagi individu yang mengalami intoleransi laktosa.
Namun, mengalami intoleransi laktosa tidak berarti seseorang harus sepenuhnya menjauhi susu. Menurut dr. Farhan, masyarakat masih bisa mendapatkan manfaat nutrisi dari susu dengan memilih produk yang telah mengalami pengurangan atau penghilangan laktosa.
Susu bebas laktosa menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan bagi mereka yang mengalami masalah pencernaan setelah mengonsumsi susu biasa.
Pemilihan jenis susu yang tepat sangat penting, karena susu tetap menyediakan sejumlah nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Dengan memilih susu yang sesuai dengan kemampuan pencernaan, seseorang dapat menikmati manfaatnya tanpa harus merasakan ketidaknyamanan yang berkepanjangan.
Data dari survei yang dilakukan oleh Good Doctor menunjukkan bahwa 97 persen dokter yang berpartisipasi setuju bahwa susu sapi bebas laktosa adalah pilihan yang aman untuk lambung dan tidak menyebabkan kembung.
Namun, perlu diingat bahwa reaksi setiap individu terhadap makanan dapat bervariasi. Jika seseorang mengalami gejala pencernaan yang berulang setelah mengonsumsi produk susu, sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai intoleransi laktosa tanpa melakukan pemeriksaan atau konsultasi yang tepat.

